SIRAMAN GONG KYAI PRADAH DITETAPKAN SEBAGAI WBTB

Blitar – Tradisi Siraman Gong Kyai Pradah di Lodoyo ditetapkan menjadi satu diantara Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2016 dan 2017. Piagam Penetapan WBTB Gong Kyai Pradah ini diterima Staf Ahli Bupati Blitar Bidang Ekonomi, Keuangan & Pembangunan, Ir.Sugiyanto, M.Si,  di Halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (27/10). Penghargaan ini juga diterima oleh sembilan kabupaten lain di Jawa Timur, yakni Kabupaten Probolinggo dengan WBTB Entas-entas Tengger dan  Mecak Tengger, Kabupaten Lumajang  dengan Jaran Kencak,  Kabupaten Banyuwangi WBTB Kebo Aliyan Using, Kabupaten Trenggalek  dengan Lodiro, Kabupaten Malang WBTB Wayang Kucil Malang, Kabupaten Jombang WBTB Sandhur Manduro, Kabupaten Sumenep WBTB Nyader Anggasuto, Kabupaten Pacitan  Ceprotan, dan Kabupaten Gresik WBTB  Damar Kurung.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar, Luhur Sedjati, S.Pd, M.Pd menyampaikan, penghargaan WBTB terhadap warisan budaya Indonesia, Gong Kyai Pradah ini patut disyukuri, karena tidak semua daerah di Jawa Timur bahkan di Indonesia mendapatkan penghargaan serupa. Diungkapkan pula, tradisi Siraman  atau Jamasan Gong Kyai Pradah yang dilaksanakan setiap penanggalan Maulud yang notabene bertepatan dengan Peringatan  Hari Keagamaan Maulud Nabi Muhammad SAW atau tanggal 12 Rabiul Awal dan l Syawal,  ini sebagai bentuk nguri-nguri budaya. Atau dengan kata lain, melestarikan budaya bangsa supaya generasi penerus negeri ini mengetahui aset budayanya. Juga menyejahterakan masyarakat. Mengingat masyarakat dari berbagai daerah ngalap berkah, mencari rejeki dengan berjualan di lokasi Siraman Gong Kyai Pradah tersebut. Ironisnya, keberaadaan para penjual saat ini masih semrawut, belum tertata rapi. Justru lebih rapi pada era Tahun 80-an. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Blitar kedepan untuk menata para penjual agar rapi sehingga para pengujung lebih nyaman.

Luhur Sedjati juga mengingatkan Siraman Gong Kyai Pradah sebagai aset wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Blitar, patut dipromosikan, sehingga menarik kunjungan wisatawan khususnya wisatawan dari mancanegara.

Sejarah Singkat Gong Kyai Prada

Ada yang mengatakan bahwa Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I.Ada pula yang mengatakan bahwa Kyai Pradah berasal dari Adipati Terung, kembaran dari tongkat sakti Tikus Jinodo yang diberi nama Kyai Macan, yang diturunkan kepada Kyai Pengging sebagai kembaran Bende Udan Arum. Kyai Macan tersebut kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi lasykar Demak sewaktu menyerang kerajaan Majapahit. Mengenai riwayat gong tersebut sampai sekarang belum diperoleh sumber data yang pasti, hanya dari cikal bakal daerah Lodoyo dan tutur kelantur di masyarakat diperoleh gambaran sebagai berikut:

Ada yang mengatakan bahwa Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I. Kyai Macan tersebut kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi lasykar Demak sewaktu menyerang kerajaan Majapahit.

Pelacakan oleh Bupati Blitar dan Asisten Kediri pada tahun 1927, mengenai riwayat Kyai Pradah, diperoleh informasi sebagai berikut: Sewaktu tentara Demak akan menggempur kerajaan Majapahit, Sunan Kudus mengikuti dari belakang sambil membawa bende Kyai Macan. Berhubung pasukan tentara Demak lebih kecil bila dibandingkan dengan pasukan tentara Majapahit, maka pasukan tentara Demak kemudian berpencar. Pada saat itu, wilayah sekitar Majapahit masih berupa hutan, sehingga ketika Kyai Macan dipukul, suaranya yang menyerupai harimau menggaum memantul ke segala penjuru.

Mendengar suara itu, tentara Majapahit mengira tentara Demak mengerahkan harimau siluman. Banyak di antara mereka ketakutan dan meninggalkan pos penjagaan. Hal itu justru memudahkan tentara Demak masuk ke dalam kota Majapahit dan mendudukinya. Sesudah kerajaan Majapahit roboh, berdirilah kerajaan Demak. Kyai Macan kemudian dijadikan pusaka Demak disatukan dengan gamelan Sahadatin. Sejak itu, Kyai Macan berpindah-pindah menjadi pusaka Pajang dan Kartosuro. Menurut cerita, Sunan Paku Buwono I mempunyai seorang putra dari garwo ampeyan bernama Pangeran Prabu. Sewaktu garwo padmi belum berputra, Pangeran Prabu dijanjikan akan diangkat menjadi raja sebagai pengganti dirinya. Namun, ternyata garwo padmi melahirkan seorang putra laki-laki.

Agar tidak menimbulkan perang saudara, Pangeran Prabu disuruh pergi ke hutan Lodoyo untuk babad mendirikan kerajaan. Saat itu, hutan Lodoyo terkenal wingit, maka Pangeran Prabu diberi gong Kyai Macan sebagai tumbal. Pangeran Prabu bersama-sarna isterinya, Putri Wandansari, kemudian berangkat babad disertai beberapa abdi. Sebenarnya Sunan Paku Buwono I berbuat demikian itu bukan bermaksud agar Pangeran Prabu berhasil mendirikan kerajaan, melainkan agar Pageran Prabu mengalami kehancuran dari godaan jin. Dilain pihak, Pangeran Prabu sendiri sebenarnya juga tidak ingin mendirikan kerajaan karena beliau sesungguhnya seorang ulama besar. Pangeran Prabu dapat menangkap maksud Sunan Paku Buwono I terhadap dirinya. Sehingga untuk menghilangkan jejaknya, beliau berpindah-pindah tempat tinggalnya. Setiap menempati lokasi baru, beliau mengadakan pengajian. Pangeran Prabu kemudian mendirikan pondok. Pondok Pangeran Prabu atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Imam Sampurna, semakin lama bertambah banyak muridnya. Keberhasilan itu akhirnya terdengar oleh Adipati Srengat yang bernama Pangeran Martodiningrat, maka segera dilaporkan ke Kartosuro karena dikhawatirkan Pangeran Prabu akan mendirikan kerajaan. Kartosuro pun kemudian mengirim tentaranya dibantu oleh kompeni Belanda. Pangeran Prabu atau Panembahan Imam Sampurno mengetahui hal itu lalu bersembunyi di hutan Kedung Bunder dan berganti nama menjadi Mbah Tjingkrang. Kata Tjingkrang mengandung arti ’maksud beliau belum tercapai’. Mbah Tjingrang akhirnya menetap di Kedung Bunder sampai akhir hayatnya. Makam Mbah Tjingkrang pun akhirnya menjadi punden keramat.

Kyai Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah. (Humas). foto:ilustrasi

Check Also

Pelajar Selalu Antusias Sambut Mobil MBG, Personel Dapur Ikut Bangga

Bogor — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan Madang, Sentul, Savira Hazra mengaku bangga …