HUT PETA KE-72 BUPATI BLITAR SERUKAN SEMANGAT KEPAHALWANAN

Blitar – Bupati Blitar, Drs. H.Rijanto, MM  yang didampingi beberapa Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar menghadiri  peringatan perjuangan Pembela Tanah Air Indonesia (PETA) ke-72, di Desa Serang Kecamatan Panggungrejo, Senin (13/2). Dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh akademisi, pelajar dan masyarakat umum ini, Bupati Blitar meresmikan Monumen PETA. Ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini.Bupati Blitar dalam sambutannya menegaskan, peringatan perjuangan PETA merupakan momentum untuk semua warga agar mengingat perjuangan para pahlawan PETA. Semangat kepahlawanan mereka yang gigih berjuang, bersatu  untuk kemerdekaan negeri ini patut digelorakan kembali. Sekarang ini, untuk mengisi kemerdekaan diantaranya dengan  cara menjaga kerukunan,  saling gotong royong, dan berinovasi.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Blitar juga mengingatkan tentang sejarah perjuangan Supriyadi dan PETA Blitar. Tentara PETA  dibentuk markas  yang notabene inisiatif Bung karno, Ki Hajar Dewantara. Ini untuk mempersiapkan kemerdekaan RI yang disetujui oleh Panglima Militer Ryugukon (Darat) ke-16 Jepang, Jenderal Kamarici Harada sesuai dengan ketentuan undang-undang perang Sarai No.44.  Di Blitar, Daidanco (Komandan Surahman) membentuk Daini Daidan  bersama kerabatnya R.Darmadi yang saat itu menjabat sebagai Bupati Blitar. R.Darmadi adalah ayah kandung Sudanco Supriyadi. Selain Sudanco Supriyadi dimasukkan program tersebut, diajak pula kerabat yang lain diantaranya Muradi, Sudarmo, Dr. Ismangil, Parto Hardjono, Suyatmo, dan Cipto . Jepang memaksa para pemuda untuk dikirim ke Tambakrejo, Serang dan Jolosutro. Tugasnya untuk berjaga-jaga agar tidak ada pasukan Sekutu meneobos masuk melalui pantai. Tentara PETA Blitar tidak saja hanya berlatih militer namun juga kerja paksa. Ini merupakan awal dari munculnya rasa nasionalisme para pejuang PETA, termasuk Supriyadi. Tanggal 13 Pebruari 1945, Supriyadi memimpin pelaksanaan pemberontakan.  Tentara PETA membagi zona perlawanan. Tanggal 14 Pebruari 1945 hari Selasa Pon , jam 03.30 WIB, Supriyadi meneriakkan komando Kan Jimni (mulai). Kemudian meledakkan mortir 8 peluru yang diarahkan kesejumlah fasilitas yang dihuni orang-orang Jepang. Sudanco Parto Hardjono tidak kalah heroik. Dia menancapkan Bendera Merah Putih di depan Markas Daidan, tepatnya didepan Makam Pahlawan. Bendera tersebut dijahit oleh istrinya. Warna merah bekas pembungkus mesiu sedangkan warna putih dari sarung bantalnya. Hari itu, Indonesia belum merdeka namun di Blitar, Bendera Merah Putih sudah berkibar selama tiga jam.

Usai peristiwa itu, Supriyadi bersama Sunanto menuju arah timur. Diperjalanan menembak Kapten Sakura. Sunanto lalu berperang melawan pasukan Heiho yang didatangkan kusus dari Malang. Sedangkan Supriyadi secara terpisah sempat mampir di Kades Sumberagung, Gandusari. Supriyadi dan Y.Sudarsono setelah berpamitan dengan Kades  Sumberagung pergi dan tidak bisa ditemukan sampai sekarang ini. Yang pada akhirnya Sudanco Supriyadi disebut sebagai Pahlawan Nasional.

Bupati Blitar menyampaikan, banyak pejuang kemerdekaan yang notabene pahlawan nasional berasal dari Blitar. Seperti Bung Karno (Presiden RI yang pertama), juga Sukarni (Bung Karni). Jiwa, semangat mereka yang gigih berjuang harus dicontoh. Tanpa pengoraban dan perjuangan mereka, negeri ini termasuk Blitar tidak akan semakmur seperti sekarang ini. Untuk itu, diakhir sambutannya, Bupati Blitar mengingatkan kembali agar semangat kepahalwanan harus digelorakan kembali demi membangun negeri.(Humas)

Check Also

Pelajar Selalu Antusias Sambut Mobil MBG, Personel Dapur Ikut Bangga

Bogor — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan Madang, Sentul, Savira Hazra mengaku bangga …